Kejumudan di Kompleks <b>Perumahan</b> « Nova Kurniawan's Weblog in Property |
| Kejumudan di Kompleks <b>Perumahan</b> « Nova Kurniawan's Weblog Posted: 04 Sep 2010 05:11 PM PDT Tapi ga bisa dibiarin. Nie harus mulai menulis lagi. Mulai. Masalah yang ingin aku jabarkan di sini mengenai kondisi kompleks perumahan seperti perumahan karyawan PKT yang saat ini aku berada di dalamnya. Dari kecil aku hidup di sini. Tapi baru sekarang aku sadar, ada yang kurang tepat. Mungkin karena aku mulai belajar banyak hal ketika kuliah di jogja. Satu masalah yang sangat menggangguku adalah suasana di sini begitu seragam. Keberagaman tak muncul layaknya pemukiman desa dan iklim kampus UGM. Bagi sebagian orang itu bukan masalah, tapi ga buatku. Coba bayangin, gimana pertumbuhan seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang homogen dan seragam??? Jelas mindset dan jalan pikirannya akan mengarah pada kondisi seperti itu. Berbeda halnya jika sejak awal anak dihadapkan pada kondisi yang serba beragam. Pikirannya akan lebih wise dan bijak menerima perbedaan. Mungkin ini pandangan subyektif, tetapi kecenderunganku dan temen-temen lain yang dari Bontang seperti itu. Awal berada di kampus, kami kaget. Pasti. Karena suasana keseragaman yang mendidik kami sejak kecil berubah total menjadi keberagaman yang luar biasa. Alhasil kami terbagi dalam dua blok besar, kelompok yang tertutup dan tak mampu bergaul dengan baik dan kelompok yang dengan instan melepaskan jubah keseragaman dan melebur hingga tak berbentuk dalam masyarakat luas. Mungkin sebagian lagi ada di kelompok ketiga. Kelompok yang mengerti bahwa lingkungan telah berbeda dan berubah, maka dirinya mulai belajar untuk melebur dengan lingkungan tanpa harus meninggalkan dirinya sendiri. memang butuh waktu, tapi daripada tidak sama sekali. Kondisi perumahan PKT ini harusnya dirubah. Secara kodrat, manusia memang diciptakan berbeda-beda, walaupun tidak berarti mengkultuskan perbedaan. Secara wajar, ketika manusia bermasyarakat akan menumbuhkan perbedaan-perbedaan dalam tubuh masayarakat itu sendiri. hanya tinggal bagaimana perbedaan itu akan tetap tunduk dalam sistem dan kaidah yang berlaku dan disepakati bersama. Sama seperti guru yang memiliki kewenangan besar di dalam kelasnya. Antara satu guru dan guru lain pasti punya karakter dan cara mengajar yang berbeda-beda, akan tetapi bagaimanapun mereka mesti tetap tunduk dalam sistem akademik yang berlaku dalam sekolah. Yah, sekedar curhatan ga jelas dariku. Mungkin lebih lengkapnya adalah kegelisahan yang muncul karena bayang-bayang dan imajinasi pikiranku yang memang ga ilmiah. Kalo mau ilmiah harusnya dibuat penelitian mengenai kecenderungan pertumbuhan pemikiran anak-anak PKT. Cuma siapa yang mau neliti begituan ya, hehehe. Yah sudahlah, mudah-mudahan ada yang baca dan kita bisa diskusi mengenai ini. Alhamdulillahnya kalo yang baca juga termasuk salah satu anak perumahan, sepertiku, hehehe. |
| Menciptakan Lingkungan <b>Perumahan</b> Perkotaan yang Berkualitas <b>...</b> Posted: 04 Sep 2010 01:58 PM PDT class='entry'> Kualitas suatu lingkungan merupakan salah satu persoalan utama di dalam perancangan kota dan selalu menjadi perdebatan. Perdebatan tersebut tidak terlepas dari dinamika pendekatan masalah perancangan kota itu sendiri sebagai bagian dari sebuah proses pembangunan kota yang bersifat multidimensi. Orientasi perancangan kota yang ada pada ada pada awalnya cenderung melihat persoalan kualitas lingkungan kota secara fisik (sosial) juga mulai bergeser pada isu-isu yang lebih berkelanjutan. Akan tetapi, permasalahan tidak berhenti sampai disitu saja karena konsep dasar keberlanjutan itu sendiri mencakup beberapa dimensi di dalamnya yaitu dimensi sosial, lingkungan (ekologis), maupun ekonomi. Dengan demikian ukuran kualitas lingkungan kota menjadi suatu hal yang tidak sederhana seperti yang dipikirkan. Prinsip perancangan kota karenanya harus menawarkan harapan akan pertumbuhan ekonomi serta mendorong peningkatan kualitas hidup dan menjadikan kota mejadi lebih berkelanjutan (Moghtin, 1996). Berbagai pendekatan muncul dan salah satu yang banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang berkelanjutan adalah dimensi ekologi. Pendekatan ini merupakan respon atas berbagai kenyataan yang memperlihatkan besarnya skala dampak yang ditimbulkan akibat dari kerusakan lingkungan. Kualitas lingkungan perkotaan karenanya tidak cukup hanya dikaitkan dengan aspek fisik yang terkait visual dan spasial. Kualitas lingkungan perkotaan juga harus dilihat dari kemampuannya menjadi tempat tinggal dan bekerja yang menyenangkan serta mampu mendorong keragaman hayati, integritas ekologi serta menjaga sumberdaya alamiah. Kriteria kualitas lingkungan tersebut tampaknya perlu menjadi perhatian terutama dalam pengembangan perumahan di perkotaan. Sebagai bagian dari sistem perkotaan, pengembangan perumahan mempunyai pengaruh sangat penting terhadap kualitas lingkungan perkotaan. Pengembangan perumahan mampu mendorong kapasitas pertumbuhan dan peningkatan kualitas lingkungan perkotaan baik secara sosial maupun fisik. Namun banyaknya kebutuhan lahan untuk pengembangan perumahan berdampak pada berkurangnya kemampuan lingkungan alam. Untuk itu pengembangan perumahan perkotaan harus dapat mengefisienkan dan mengefektifkan penggunaan sumberdayanya yang sangat terbatas khususnya tanah perkotaan. Saat ini dalam memenuhi kebutuhan perumahan, pemerintah terus mendorong pemilikan rumah melalui pengembangan perumahan menengah ke bawah. Upaya tersebut tidak lepas dari banyaknya manfaat pemilikan rumah baik secara sosial, ekonomi maupun lingkungan. Pemilikan rumah diyakini dapat membantu menstabilkan lingkungan ketetanggaan (neighborhood) dan memperkuat komunitas. Strategi ini juga menciptakan insentif bagi lingkungan dan individual yang penting untuk memelihara dan memperbaiki properti pribadi dan ruang publik. Semua itu merupakan syarat untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang berkualitas. Namun pemilikan rumah oleh keluarga menengah ke bawah ternyata tidak otomatis menghadirkan manfaat secara optimal. Orientasi pengembangan yang lebih terfokus pada kuantitas daripada kualitas telah mempengaruhi buruknya kualitas lingkungan perkotaan seperti diindikasikan dengan fenomena rumah kosong pada perumahan menengah ke bawah. Kondisi tersebut menyebabkan lingkungan perumahan mengalami penurunan kualitas akibat rumah-rumah dibiarkan kosong. Hal yang tampak menjelaskan bahwa faktor prasarana dasar mempunyai pengaruh menentukan kualitas lingkungan perumahan. Pentingnya peranan faktor ini dapat menjadi dasar strategi untuk meningkatkan kualitas lingkungan perumahan di perkotaan. Tuntutan tersebut tentunya sulit untuk realisasikan apabila diterjemahkan secara sempit oleh para pengembang perumahan. Untuk menaggulangi persoalan kualitas prasarana dasar tersebut pemerintah seharusnya dapat mengambil alih peran penyediaan yang selama ini dibebankan kepada para pengembang. Dengan demikian tidak ada upaya penurunan kualitas oleh pengembang sehingga pengembangan perumahan menjadikan lingkungan perkotaan yang lebih berkualitas yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi serta sosial dan mendorong peningkatan kualitas hidup dan menjadikan kota lebih berkelanjutan. |
| You are subscribed to email updates from rss indonesia rakhma To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |

0 komentar:
Posting Komentar